Strategi RSD untuk Mengatasi Konflik di Komunitas

Oleh: Shobihah Mustahdiyah

Konflik yang muncul dalam masyarakat sering kali melibatkan perbedaan tajam antara individu atau kelompok yang memiliki pandangan, kepentingan, dan identitas yang berbeda. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif dalam meredakan ketegangan tersebut adalah Reflective Structured Dialogue (RSD)—sebuah metode dialog yang memungkinkan setiap pihak untuk berbicara dengan penuh perhatian dan mendengarkan dengan empati. 

Dalam Seminar Nasional & WPS Lecturing Goes to Campus: Women, Peace, and Security, Dwi Rubiyanti Kholifah, Direktur AMAN Indonesia, menjelaskan betapa pentingnya strategi ini untuk meredakan konflik di tingkat komunitas, serta bagaimana proses tersebut mampu mempertemukan pihak-pihak yang sebelumnya terpisah oleh kebencian dan ketakutan.

 

Mendengarkan dengan Empati

Langkah awal dalam RSD adalah ‘mendengarkan’ dengan sungguh-sungguh. Bukan sekedar mendengar, tetapi memberi ruang setiap individu untuk berbagi pengalaman pribadi mereka tanpa interupsi. Dalam konteks konflik, orang-orang yang terlibat sering merasa diabaikan dan tidak didengar. Proses ini menjadi jalan bagu mereka untuk mengungkapkan luka, ketakutan, dan harapan. 

Dalam praktiknya, setiap individu diberikan kesempatan untuk berbicara tentang pengalaman mereka yang berkaitan dengan konflik—baik itu pengalaman pribadi maupun cerita kolektif dari kelompok mereka. Dengan mendengarkan tanpa memberikan penilaian atau pemaksaan, RSD mendorong rasa saling pengertian yang menjadi fondasi untuk mengurangi ketegangan dan membangun hubungan yang lebih baik.

Salah satu elemen krusial dalam penerapan RSD adalah pemetaan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Sebagai contoh, dalam kasus konflik di Tasikmalaya terkait dengan Ahmadiyah, pemetaan dilakukan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang mendukung, menolak, atau bersikap netral. Pemetaan ini membantu fasilitator memahami dinamika yang ada, termasuk peran masing-masing pihak dalam konflik tersebut.

Dengan pemetaan ini, fasilitator dapat lebih jelas melihat siapa yang memiliki posisi kuat dalam konflik dan siapa yang masih bisa diajak untuk berdialog. Pihak-pihak yang abstain atau berada di posisi tengah sering kali bisa menjadi jembatan antara kelompok yang saling bertentangan. Mereka bisa membantu menjelaskan perspektif masing-masing pihak dan membantu menemukan solusi yang lebih inklusif.

Namun, dalam proses pemetaan ini tidak jarang ditemukan bahwa ada kelompok yang menolak perdamaian atau solusi yang diusulkan. Dalam situasi seperti ini, strategi RSD memerlukan waktu yang lebih lama untuk menjangkau mereka yang berada di posisi penolakan tegas, dan penting untuk memahami alasan mendalam di balik penolakan tersebut.

 

Menyatukan Komunitas tanpa Memaksa

Salah satu tantangan terbesar dalam menyelesaikan konflik yang berbasis identitas, seperti yang terjadi pada kasus Ahmadiyah, adalah menghindari pemaksaan narasi keagamaan tertentu. Dalam banyak kasus, konflik sering kali dipicu oleh klaim kebenaran absolut dari satu kelompok, yang berusaha memaksakan pandangannya kepada kelompok lain. 

RSD menawarkan pendekatan berbeda dengan menempatkan ‘kehidupan sehari-hari’ dan ‘pengalaman pribadi’ sebagai titik awal percakapan, daripada langsung terjebak dalam perdebatan teologis atau ideologis. Pendekatan ini bertujuan untuk membuka jalan bagi pemahaman bersama tanpa harus memaksakan satu pandangan keagamaan atau ideologi. Ketika dialog dimulai dari pengalaman hidup, sering kali ditemukan banyak kesamaan, yang pada gilirannya membuka ruang untuk kolaborasi tanpa menyinggung perbedaan yang ada.

Penting untuk dicatat bahwa dalam RSD, kelompok yang terlibat tidak diharuskan untuk menyetujui atau menerima pandangan satu sama lain secara total. Tujuannya adalah untuk menciptakan ruang untuk ‘toleransi’ dan ‘penghargaan terhadap keberagaman’, serta memastikan bahwa semua suara didengar dengan adil.

Keamanan dalam proses dialog adalah hal yang tidak kalah penting. ‘Kerahasiaan’ menjadi elemen utama dalam menjaga agar proses dialog tetap berjalan lancar dan aman. Salah satu masalah utama yang sering terjadi dalam dialog semacam ini adalah backlash—serangan balik atau penolakan dari pihak yang merasa terancam oleh pembicaraan yang sedang berlangsung.

Untuk menghindari backlash, terutama di masyarakat yang masih memiliki ketegangan atau resistensi terhadap kelompok tertentu, RSD menganjurkan untuk menjaga agar proses percakapan tetap low profile. Ini berarti bahwa meskipun hasilnya mungkin luar biasa bermanfaat bagi penyelesaian konflik, prosesnya harus dilaksanakan dengan hati-hati. Proses ini sebaiknya tidak diekspos secara luas pada tahap awal agar tidak menarik perhatian negatif dari kelompok yang lebih ekstrem.

Penting untuk menyadari bahwa keamanan peserta adalah prioritas, dan menjaga kerahasiaan dalam proses dialog akan meminimalkan risiko yang dapat memperburuk konflik lebih lanjut. 

 

Nilai Dialog Reflektif 

Reflective Structured Dialogue menekankan pada ‘empati, kesabaran, dan saling mendengarkan’. Strategi ini mengajarkan kita bahwa untuk mengatasi konflik, kita harus melangkah lebih jauh dari sekadar mendengarkan—kita perlu menyentuh hati dan pikiran orang lain dengan penuh pengertian dan penghormatan. Dalam konteks ini, pemecahan masalah tidak hanya terjadi di ruang formal perundingan atau forum publik, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari yang penuh dengan rasa hormat terhadap perbedaan.

Rubiyanti Kholifah menegaskan bahwa RSD bukan hanya teori, melainkan ‘prinsip praktis’ yang dapat diterapkan di berbagai tingkat masyarakat, terutama mereka yang mengalami konflik ——baik dalam konteks agama, etnis, maupun politik. RSD menawarkan pendekatan yang dapat membuka jalan baru perdamaian yang lebih inklusif dan adil.

Melihat dunia yang semakin terpecah oleh perbedaan, RSD memberi kita alat untuk mengatasi ketegangan melalui pemahaman, pengertian, dan, yang paling penting, ‘mendengarkan’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

KNOWLEDGE-HUB
WPS Indonesia

K-Hub WPS Indonesia adalah platform online yang memberikan informasi singkat tentang perkembangan implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325 tentang Women, Peace and Security di Indonesia. Ini merupakan situs web yang dapat diakses oleh publik dan berfungsi sebagai wadah pengetahuan terinstitusionalisasi mengenai Women, Peace, and Security (WPS) di Indonesia.