Resiliensi dalam Pesan Obertina Johanis: Membangun Ruang Perjumpaan untuk Perdamaian

Oleh: Ivy Sudjana

“Cerita Obertina membuat kita tahu bahwa jendela-jendela resolusi konflik itu mungkin dilakukan dan AMAN Indonesia sedang melakukan itu bersama dengan kawan-kawan partner.” -Dwi Rubiyanti Kholifah- Peluncuran Buku She Builds Peace Indonesia, seri pertama, Kisah-kisah Perempuan Penyelamat Nusantara. 

Kisah Pendeta Obertina Johanis dan perjuangannya dengan jemaat Gereja Kristen Pasundan di Dayeuhkolot, Bandung, dan bagaimana ia membuka ruang dialog dan perjumpaan sebagai pencegahan tindak intoleransi hanyalah satu dari dua puluh enam kisah perempuan penyelamat Nusantara dalam buku tersebut. 

Buku yang diinisiasi AMAN Indonesia ini fokus pada upaya resistensi dan negosiasi yang dipimpin perempuan akar rumput dalam mewujudkan perubahan nyata di masyarakat sekitarnya. Pengalaman sosial maupun biologis khas perempuan ditegaskan lewat laku kebaikan para perempuan tersebut, tanpa harus mempersempit ruang gerak mereka, melainkan memperkuat kepemimpinan sebagai agensi perempuan hingga mampu membangun resiliensi masyarakat. 

Melalui buku ini, setiap individu yang membacanya diharapkan bisa  menyesapi sendiri kisah-kisah hebat perempuan Nusantara dari berbagai latar belakang, daerah, budaya maupun agama. Namun, sama-sama memiliki satu tujuan, yaitu mewujudkan dunia yang inklusif dan setara. 

Peluncuran buku ”She Builds Peace Seri 1: Kisah-kisah Perempuan Penyelamat Nusantara”, hari Kamis 22 Februari tahun ini memuat kisah hebat perempuan dari berbagai latar belakang, daerah, budaya maupun agama, menjadi penanda puncak dari gerakan global perayaan ”World Interfaith Harmony Week” yang berlangsung selama 1-7 Februari 2024.

Ruby dalam sambutannya sebagai Country Representative AMAN Indonesia, menegaskan bahwa dalam upaya mengubah pola pikir, dan membangun keyakinan kepada masyarakat tentang bagaimana  perempuan berkontribusi kepada perdamaian, betul-betul membutuhkan sebuah bukti. Yang dimaknai AMAN Indonesia sebagai tindak nyata yang lalu didokumentasikan, tak hanya jadi cerita dari mulut ke mulut para perempuan pendamping di desa-desa saja.  

“Contoh Pendeta Obertina, melawan tanpa kekerasan, melainkan dengan pendekatan kemanusiaan, membuat kita jadi tahu bahwa persoalan penutupan gereja, bukan hanya persoalan masyarakat sekitar dengan gereja. Namun, ada persoalan pelik, ketidaktahuan masyarakat, maupun usaha mobilisasi yang dilakukan sekelompok orang tertentu,” tegas Ruby menambahkan. 

Obertina Johanis, telah belajar banyak tentang berintegrasi dalam keberagaman sejak kecil dari keluarganya, terutama ibunya. Sebagai perantauan dan masuk ke daerah yang sama sekali berbeda, keluarga Obe selalu mengajarkan untuk berkenalan dengan sesepuh daerah setempat, istilahnya kata Obe ‘lapor diri’ sebagai bentuk sopan santun dan sikap menghormati dari pendatang kepada penduduk lokal. 

Meski demikian tindak perundungan dan tindak kekerasan berbasis agama tetap diterimanya. Baik sejak kecil di mana keluarganya merupakan orang Kristen satu-satunya di desa. Maupun, saat ditugaskan menjadi pendeta di Gereja Kristen Pasunda, Dayeuhkolot di Bandung, gereja yang diserang dan dirusak oleh kelompok radikal sekitar tahun 2005 hingga 2007 karena izin mendirikan bangunan ditolak pemerintah daerah.

Hampir setiap pekan, ibadah Minggu di Gereja yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang dipimpin Obe selalu mengalami gangguan. Ada saja kelompok masyarakat yang menolak kegiatan keagamaan yang dilakukan jemaat gereja itu. Mereka dicurigai sedang menyebarkan ajaran Kristen, tepatnya dituduh melakukan kristenisasi, sekaligus melakukan pemurtadan.

Ruang gerak para jemaat dibatasi. Bahkan tidak jarang mereka diintimidasi, dicaci ataupun diteriaki. Obertina menyaksikan langsung semua kejadian itu dan sangat memahami trauma yang dialami para perempuan dan anak-anak. 

Namun, kejadian itu tidak membuat Obe ciut nyalinya, sebaliknya dianggap sebagai tantangan yang harus dihadapi untuk mendapatkan haknya sebagai warganegara untuk memberikan kontribusi membangun generasi yang lebih baik. 

Obe pun berupaya keras memikirkan untuk membuka ruang perjumpaan dan kebersamaan dengan warga setempat. Membuat kursus Bahasa Inggris untuk anak-anak, yang lalu didukung dengan jemaat yang lain dengan menyediakan makanan kecil untuk anak-anak tersebut, diikuti juga inisiatif untuk membuka perpustakaan kecil dengan buku-buku keluaran penerbit Mizan. Semua inisiatif baik itu dilakukan di area Pastori, tempat tinggal Obe, yang tak ada satu pun perangkat Ibadah Kristen agar meminimalisir kesalahpahaman.

Upaya baik ini sayangnya tak berlangsung lama, karena satu per satu anak-anak sekitar yang hadir, tak bisa ikut serta dalam kursus maupun membaca atau meminjam buku, dikarenakan dilarang oleh orang tua mereka. 

Sudah sekian tahun terlewat, sudah sekian bencana banjir menjadi peluang membuka ruang dialog dan kebersamaan dengan masyarakat sekitar dengan menjadikan ruang Gereja sebagai posko pengungsian,   upaya memperjuangkan keberadaan Gereja belum menuai hasil juga. 

Namun, Pendeta Obertina justru menemukan banyak hal yang menurutnya menjadi penyebab terjadi kekerasan berbasis agama. 

Semua itu dirangkumnya dalam tiga poin yang dijelaskan pada narasi penutup peluncuran buku tersebut. Poin pertama adalah menciptakan ruang-ruang perjumpaan dengan yang berbeda secara sengaja. Dari pengalaman, Obe belajar adanya kebencian dari kelompok berbeda itu, mungkin karena tak pernah saling ketemu, tak pernah tahu keberadaan satu sama lain, dan adanya prasangka-prasangka.

Poin kedua adalah membiasakan diri mencari informasi tentang orang atau kelompok yang berbeda, dari sumber yang pertama supaya prasangka yang kita miliki, ketika diudar itu sungguh valid adanya. Kalau mau tahu tentang Kristen, bertanyalah ke orang Kristen, mau tahu tentang Islam, bertanyalah ke orang Islam, demikian juga agama yang lain. Perumpamaannya, meski teman-teman sering datang ke rumah saya, tak berarti serta merta tahu saya (pemilik rumah) menyimpan teh dan kopi saya di lemari yang mana. 

Karenanya untuk anak muda yang masih berpikir kritis, jangan cepat percaya dengan perkataan orang lain tentang kelompok agama yang berbeda, suku yang berbeda, karena jangan-jangan semua prasangka itu  belum pernah diudar ke sumber pertama. 

Poin ketiga atau terakhir, bangunlah pertemanan, bahkan persahabatan, dengan orang yang berbeda. Jangan merasa keren kalau belum punya teman yang berbeda agama, atau berbeda sukunya. Karena pengalaman berjumpa dengan yang berbeda itu akan memperkaya teman-teman. 

Bagi Obe, hal keren menurutnya ketika anak muda berteman dari macam-macam suku, dari macam-macam agama, bersahabat dengan yang berbeda-beda, selalu kritis dan bisa mengkritisi ajaran yang disampaikan pimpinan agamanya tentang orang lain.

“Karena perbedaan di Indonesia adalah given. Sesuatu yang jadi bagian jati diri Bangsa,” tutur Obe mengakhiri. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share

KNOWLEDGE-HUB
WPS Indonesia

K-Hub WPS Indonesia adalah platform online yang memberikan informasi singkat tentang perkembangan implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325 tentang Women, Peace and Security di Indonesia. Ini merupakan situs web yang dapat diakses oleh publik dan berfungsi sebagai wadah pengetahuan terinstitusionalisasi mengenai Women, Peace, and Security (WPS) di Indonesia.