Oleh: Dalpa Waliatul Maula
Poso, wilayah yang pernah menjadi saksi konflik hebat dua dekade lalu, kini memulai langkah baru menuju perdamaian yang berkelanjutan. Dalam upaya memperkuat kohesi sosial, AMAN Indonesia bekerja sama dengan komunitas lokal menyelenggarakan Pelatihan Perempuan Mediator Perdamaian. Pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Dalam pelatihan ini, para peserta diberi keterampilan untuk memfasilitasi dialog terstruktur dan membangun perdamaian di komunitas mereka. Dengan menggunakan metode Reflective Structured Dialogue (RSD), para peserta diajak untuk membuka ruang percakapan yang lebih empatik dan inklusif.
Keikutsertaan perempuan dari latar belakang beragam—Islam, Kristen, dan komunitas masyarakat sipil, menjadi fondasi penting dalam pelatihan ini. Dialog yang berlangsung di ruang pelatihan menjadi cermin dari harapan dan keinginan untuk meninggalkan prasangka yang telah lama terbentuk. Salah satu momen penting terjadi ketika peserta dari Tentena dan Tamanjeka, dua daerah yang sebelumnya saling mencurigai, duduk bersama dalam dialog yang mendalam. Dari percakapan itu, mereka menyadari bahwa banyak prasangka yang selama ini membatasi hubungan mereka tidak beralasan. Alih-alih mempertahankan jarak, mereka mulai membangun komitmen untuk saling mendukung dan belajar satu sama lain.
Pelatihan ini juga membuka wawasan para peserta tentang pentingnya memahami trauma yang disebabkan oleh konflik. Banyak peserta merupakan penyintas yang selama ini membawa beban emosional dari peristiwa masa lalu. Dalam suasana yang aman, mereka didorong untuk memahami bahwa trauma adalah bagian dari pengalaman yang dapat disembuhkan melalui dialog yang empatik dan suportif. Materi tentang cara kerja otak manusia dalam merespons konflik membantu peserta melihat bahwa luka emosional mereka tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga memiliki dampak sosial yang lebih luas. Dengan pemahaman ini, mereka belajar untuk menciptakan ruang yang aman bagi dialog di komunitas mereka.
Selama pelatihan, para peserta juga diajak untuk mempraktikkan keterampilan yang mereka pelajari dalam situasi nyata. Salah satu praktik dialog dilakukan di Kelurahan Tegalrejo, di mana isu-isu yang dibahas mencakup tantangan kontemporer seperti kenakalan remaja, penggunaan narkoba, dan kekerasan dalam rumah tangga. Dialog ini menjadi langkah awal untuk menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Dengan mendengarkan cerita dan sudut pandang warga, para peserta pelatihan menemukan bahwa pendekatan dialog tidak hanya membantu menyelesaikan masalah tetapi juga membangun hubungan yang lebih erat di antara kelompok-kelompok yang sebelumnya terpisah.
Membicarakan konflik masa lalu bukan hal yang mudah. Banyak peserta pelatihan ini adalah penyintas konflik Poso, membawa luka emosional yang mendalam dari pengalaman yang menyakitkan. Sebagian besar memilih untuk tidak membuka kembali kenangan itu, takut pada rasa sakit yang bisa muncul kembali. Namun, pelatihan ini tidak terburu-buru mendorong mereka untuk berbicara. Pendekatan yang digunakan sangat hati-hati, menciptakan ruang yang aman agar mereka dapat perlahan membangun kepercayaan. Melalui dialog yang terstruktur, peserta mulai belajar memahami trauma mereka sendiri dan bagaimana trauma itu memengaruhi cara mereka merespons konflik.
Salah satu materi yang sangat berarti bagi peserta adalah tentang bagaimana trauma bekerja dalam tubuh dan pikiran manusia. Mereka belajar bahwa trauma adalah sesuatu yang bisa membentuk reaksi emosional mereka terhadap situasi tertentu. Dengan bantuan fasilitator, mereka diajarkan cara menciptakan lingkungan yang mendukung dialog tanpa tekanan, sehingga mereka merasa lebih nyaman untuk membuka diri.
Pelatihan ini juga bukan sekadar berbagi cerita atau teori. Peserta didorong untuk merancang langkah-langkah konkret yang bisa mereka bawa pulang ke komunitas masing-masing. Beberapa dari mereka, seperti yang berasal dari Sekolah Perempuan Perdamaian Poso, mulai merencanakan inisiatif dialog yang melibatkan seluruh desa. Komunitas relawan SAPA juga muncul dengan ide-ide baru, seperti mendirikan kelompok pendukung bagi keluarga yang masih terdampak konflik. Inisiatif ini menunjukkan bahwa pelatihan ini tidak berakhir di ruang kelas—ia hidup dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.
Pelatihan ini menciptakan suasana baru di antara peserta. Hubungan yang semula dipenuhi rasa canggung dan ketegangan perlahan berubah menjadi lebih cair. Mereka menemukan teman baru dan membangun solidaritas sehingga bisa menjadi dasar bagi kohesi sosial yang lebih kuat di Poso.
Apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan ini adalah pengingat bagi kita semua tentang kekuatan dialog. Dalam dunia yang sering kali dipenuhi dengan suara keras konflik, mereka menawarkan pendekatan yang berbeda—pendekatan yang lebih empatik, lebih manusiawi, dan berorientasi pada solusi yang berkelanjutan. Mereka menunjukkan bahwa perdamaian bukan hanya tentang menghentikan kekerasan. Perdamaian adalah tentang menciptakan hubungan yang lebih baik, hubungan yang didasarkan pada saling pengertian dan dukungan.
Dengan keterampilan yang mereka peroleh selama pelatihan, perempuan di Poso kini lebih siap untuk menghadapi tantangan yang mungkin muncul di komunitas mereka. Mereka tidak lagi hanya menjadi penonton dalam narasi perdamaian, tetapi berubah menjadi pelaku utama yang membawa perubahan. Inisiatif mereka, kecil atau besar, menjadi langkah konkret menuju masa depan yang lebih damai. Dengan komitmen dan keberanian, perdamaian dapat diwujudkan—dimulai dari hati, dari komunitas, dan pada akhirnya, mampu menjadi inspirasi bagi komunitas lain di Indonesia.[]