Oleh : Ivy Sudjana
Kalau saya punya banyak uang, daripada uangnya untuk terjun ke dunia politik, atau menjadi caleg, saya memilih mendirikan sekolah perempuan. Karena, bagaimana pun juga sekolah perempuan akan memberi kesadaran kepada para perempuan di pulau tentang berbagai hal. – Haniah, Koalisi Perempuan Indonesia cabang Kabupaten Pangkep, Koordinator Komisi Perlindungan Perempuan Kabupaten Pangkep.
Haniah, satu dari sekian aktivis perempuan akar rumput di Indonesia telah memberikan contoh tak harus melalui jalan politik untuk memberi makna baru menjadi perempuan, menggunakan kekuatan ‘keperempuanannya’ untuk mendidik masyarakat pesisir, terutama perempuan agar hidup lebih baik.
Semangat Haniah, salah satu agensi perempuan yang berada dalam jajaran duapuluh enam Perempuan Penyelamat Nusantara dari Buku She Builds Peace Seri 1, memang terlatih dan terasah sejak kecil. Spiritnya berkobar karena bisa terus belajar dan bersekolah, meski tumbuh dalam keluarga patriarki di mana peran perempuan lebih kepada makhluk domestik saja.
Terus bertumbuh dengan semangat kemanusiaan, Haniah tak segan ikut aksi dan aktif berorganisasi sejak masa kuliah. Hal yang langka ditemukan pada perempuan yang berasal, tumbuh dan besar dalam adat budaya Makassar.
Pengalaman berorganisasi pada banyak lembaga membawanya menjadi pekerja sosial yang mendampinggi masyarakat pulau-pulau terluar Makassar. Dia segera menemukan betapa sulitnya akses transportasi ke pulau-pulau yang masih bagian dari negara Republik Indonesia. “Kunjungan ke Pulau untuk melakukan pendampingan sangat tergantung cuaca,” kata Haniah mengisahkan tantangannya. Dia mempertanyakan apa yang selama ini dilakukan di kota, mengapa orang-orang kepulauan tidak bisa menjangkau akses-akses yang banyak disuarakan di kota.
Beberapa kali melakukan kunjungan dan pendampingan, Haniah mulai memetakan berbagai kerentanan yang dihadapi perempuan kepulauan, dari berbagai aspek.
Lokasi pulau-pulau yang jauh dari pusat kota, terjauh berjarak tempuh 18 jam dari Makassar, yang berarti cukup terisolir karena tak semua transportasi selalu tersedia dan dalam kondisi memadai. Masyarakat yang minim akses informasi, menjadikan mereka mudah terkena disinformasi dan misinformasi.
Kondisi tersebut makin rentan, sewaktu Haniah menemukan rendahnya tingkat pendidikan, yang bisa berujung pada praktik perbudakan ekonomi. Anak perempuan sangat jarang disekolahkan ketika sudah tamat SD. Apalagi bila pulau tempat tinggal tak memiliki pendidikan lanjutan SMP/SMA. Akhirnya banyak anak berhenti sekolah karena orang tua tidak mampu mengirim anaknya sampai ke kota atau luar pulau. SMP biasa hanya ada di ibukota kecamatan. Begitu juga dengan SMA. Sementara ibukota kecamatan punya beberapa pulau, yang setiap pulaunya terbatas hanya memiliki SD.
Perkawinan anak lalu menjadi efek lanjutan dari putus sekolah. Karena kemiskinan, dan untuk mengurangi beban keluarga, sewaktu anak-anak perempuan sudah tak mungkin dan tak bisa lagi bersekolah, biasa mereka akan dihadapkan pada perkawinan. Dengan harapan tanggung jawab bisa dialihkan kepada lelaki yang menjadi suami.
Pendekatan personal yang dilakukan Haniah, mengungkap cerita beberapa ibu yang merasakan derita akibat dipaksa kawin saat usia anak. Secara psikologis mereka tak siap, ekonomi juga tidak terencana. Beberapa di antaranya malah nyaris menghadapi kematian ketika melahirkan.
Sayangnya, karena ketidaktahuan, minimnya pendidikan, serta kurangnya pemahaman akan bagaimana membentuk rumah tangga dan keluarga, hal itu seolah dinormalisasi, sudah biasa dialami perempuan di banyak keluarga. Padahal awal dari bencana yang dialami para perempuan pesisir itu tak lain tak bukan adalah perkawinan anak.
Kerentanan itu terus berkelindan dengan hal lain yang tak kalah problematik. Ketidaksiapan perempuan di bawah umur memasuki pernikahan juga membuat mereka pada posisi yang sangat rentan dan acapkali mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), termasuk digantung berbulan-bulan oleh suami yang pergi melaut, yang lalu mungkin saja berujung kepada perceraian.
Hal-hal tersebut seketika menjadi pekerjaan rumah bagi Haniah, tetapi tak berarti dia tak melihat kelebihan pulau, yang banyak memiliki potensi wisata dan kekayaan bahari yang berlimpah.
Haniah mengamati, adanya keterbatasan ini itu pada kondisi para perempuan pesisir, justru sebaliknya memunculkan karakter mereka yang tangguh. Para perempuan ini terbiasa ditinggal suami pergi melaut, sehingga sesungguhnya telah membentuk sosok yang kuat dan berdaya. Mereka pun terbiasa bekerja di bawah terik matahari, misal untuk mengeringkan ikan dan rumput laut. Semua hal tersebut menjadi acuan langkah yang diambil Haniah untuk memberdayakan mereka dan memperkuat resiliensi di antara segala kerentanan yang ada.
Dengan berbekal bacaan awal tentang kerentanan dan potensi komunitas, Haniah mulai mendekati ibu-ibu. Dia memutuskan mengunjungi ibu-ibu pada malam hari, lalu berbincang santai dengan ibu-ibu saat mereka berkumpul.
Haniah yang menyenangi fotografi tak menyangka kesukaannya itu bisa membuka ruang perjumpaan dengan ibu-ibu pesisir, yang rupanya senang sekali difoto. Dengan interaksi tersebut, Haniah mulai menjalin ikatan sosial dengan masyarakat.
Dari perjumpaan non formal itu, ruang dialog Haniah dan ibu-ibu makin terbuka. Dia pun bisa bicara tentang toleransi tanpa menyinggung isu kesukuan maupun agama. Dia pun memasukkan narasi anti kekerasan untuk masalah-masalah yang mereka hadapi dalam rumah tangga. Karena Haniah sudah dianggap bagian dari mereka, akhirnya mereka menceritakan permasalahan yang selama ini dipendam.
Dengan seringnya berdialog, yang kemudian tak hanya dalam obrolan, tetapi berlanjut dengan ibu-ibu PKK, beberapa ibu sempat mencetuskan ide untuk tambahan penghasilan dari sekadar menunggu suami membawa hasil melaut saja. Haniah dan tim pendamping lalu mencetuskan ide mengadakan pelatihan mengelola sampah.
Salah satu keresahan Haniah ketika melihat banyaknya lahan kosong di pulau yang tidak ditanami sayuran disampaikannya kepada ibu-ibu tersebut. Keraguan mereka akan keberhasilan menanam sayur di lahan pasir, menandakan bahwa memang akses pengetahuan masyarakat masih terbatas dan Haniah meyakinkan mereka.
“Ketika saya ke pulau Tunda di Jawa, di pulau tersebut sayuran bisa tumbuh di atas pasir putih. Saya belajar hal baru di sana dan menduplikasi itu di wilayah pulau dampingan saya. Saya yakinkan masyarakat akan pentingnya ketahanan pangan juga sebagai pencegahan stunting. Paling tidak mengubah ketergantungan dengan daratan terkait pengadaan sayur mayur,” ujarnya.
Berhari, berminggu, berbulan, pelatihan yang dilakukan Haniah membuahkan hasil. Setahun pertama dia berupaya membangun kesadaran tentang ketahanan pangan, tahun kedua dan selanjutnya Haniah dan penduduk desa menanam, merawat sampai akhirnya di tahun ketiga, desa dampingan Haniah, Mattiro Matae telah bisa memproduksi sayur sendiri.
Semua yang diupayakan dan dilakukan Haniah bertahun-tahun membangun resilensi di lingkungan perempuan pesisir, sungguh selaras adanya dengan salah satu strategi AMAN Indonesia dalam mewujudkan cita-cita besar budaya beragama yang anti kekerasan dan berkeadilan gender. Yaitu menjadikan pembelajaran dari masyarakat arus bawah sebagai informasi, pengetahuan dan diplomasi yang dapat menyatukan berbagai pihak.