Oleh: Afif Sabwanto
Tradisi Nyadran, sebuah ritual budaya yang sarat nilai historis dan sosial, kembali diselenggarakan oleh masyarakat Dusun Krecek dan Dusun Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung. Lebih dari sekadar upaya melestarikan warisan leluhur, tradisi ini merepresentasikan harmoni sosial yang melampaui batas agama dan budaya. Dengan komposisi demografis yang terdiri dari masyarakat beragama Buddha di Dusun Krecek dan umat Islam di Dusun Gletuk, kolaborasi dalam ritual ini menjadi bukti konkret bahwa keberagaman dapat bertransformasi menjadi landasan kokoh bagi kohesi sosial yang inklusif. Dalam konteks Women, Peace, and Security (WPS), tradisi ini juga menegaskan peran sentral perempuan dalam menciptakan perdamaian dan membangun tatanan sosial yang harmonis.
Nyadran, yang diselenggarakan setiap Bulan Rajab atau Jumat Pon dalam sistem penanggalan Jawa, pada tahun ini jatuh pada Jumat, 27 Desember 2024. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini, sejak 2019 dikenal sebagai “Nyadran Perdamaian.” Ritual ini berlangsung di kompleks pemakaman Gletuk, tempat peristirahatan para leluhur kedua dusun, sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka dalam membangun kehidupan masyarakat. Dalam perspektif WPS, Nyadran Perdamaian menjadi contoh nyata dari pencegahan konflik (Prevention pillar) melalui penguatan jaringan sosial dan penghormatan terhadap pluralisme.
Prosesi Nyadran diawali dengan persiapan intensif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Warga menyiapkan sesaji berupa nasi tumpeng, ingkung ayam, buah-buahan, serta aneka makanan tradisional yang disusun dalam tenong, wadah khas berbahan bambu. Dalam aspek ini, keterlibatan perempuan sangat signifikan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan ritual, mencerminkan partisipasi perempuan (Participation pillar) dalam WPS. Perempuan tidak sekadar bertindak sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai motor penggerak dalam menjaga harmoni sosial. Prosesi dilanjutkan dengan arak-arakan menuju makam, di mana para peserta membawa tenong di atas kepala, menciptakan panorama budaya yang kaya akan nilai spiritual dan kolektivitas. Setibanya di lokasi, mereka menggelar doa bersama sebagai bentuk ekspresi syukur kepada Tuhan serta penghormatan terhadap leluhur. Momentum ini menegaskan solidaritas sosial dalam komunitas yang heterogen.
Puncak ritual ditandai dengan prosesi makan bersama di area pemakaman, di mana hidangan dari tenong dibagikan secara komunal. Selain sebagai wujud rasa syukur, tradisi ini berfungsi sebagai mekanisme sosial yang memperkuat hubungan antarwarga Dusun Krecek dan Dusun Gletuk. Dalam kerangka WPS, kegiatan ini dapat dikategorikan sebagai relief and recovery (Relief and Recovery pillar), yang bertujuan membangun kembali ikatan sosial yang mungkin mengalami ketegangan akibat perbedaan pandangan politik pada Pemilu Presiden 2024. Peran perempuan dalam memastikan kelancaran tradisi ini menjadi faktor kunci dalam mempertahankan keberlanjutannya.
Dwi Ruby Kholifah, Country Representative Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, menggarisbawahi bahwa Nyadran Perdamaian bukan sekadar ritual, melainkan ruang refleksi dan perencanaan masa depan bagi masyarakat. Sebagai organisasi yang berfokus pada penguatan peran perempuan dalam perdamaian, AMAN Indonesia menilai Nyadran sebagai mekanisme efektif dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat ikatan komunitas. “Nyadran bukan hanya warisan budaya, tetapi juga simbol keberagaman yang harmonis yang harus terus dipertahankan,” ungkapnya. Dalam perspektif WPS, pernyataan ini menegaskan urgensi perspektif gender (Gender Perspective) dalam pencegahan konflik dan pembangunan perdamaian. Perempuan, sebagai agen perubahan, memiliki peran esensial dalam memastikan bahwa tradisi seperti Nyadran tetap relevan dalam masyarakat yang terus berkembang.
Selain aspek sosial dan budaya, Nyadran Perdamaian juga memiliki nilai edukatif bagi generasi muda. Melalui partisipasi aktif dalam prosesi, mereka belajar tentang pentingnya gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan. Tradisi ini menjadi wahana bagi anak-anak dan remaja untuk memahami bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan aset berharga dalam membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis. Keterlibatan generasi muda dalam tradisi ini juga menjadi jaminan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya akan terus diwariskan dan berkembang sesuai dengan dinamika zaman.
Dalam skala yang lebih luas, Nyadran Perdamaian dapat menjadi model bagi upaya perdamaian berbasis komunitas di berbagai daerah. Dengan pendekatan yang menekankan pada kebersamaan, tradisi ini membuktikan bahwa perdamaian dapat diwujudkan melalui mekanisme yang berbasis pada kearifan lokal. Perempuan, sebagai pilar utama dalam komunitas, memainkan peran strategis dalam memastikan keberlanjutan nilai-nilai perdamaian ini. Dengan demikian, Nyadran tidak hanya berperan dalam menjaga kelestarian warisan leluhur, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan kehidupan bermasyarakat yang damai dan inklusif.